Pertunjukan Wayang Kulit

Mempelajari karya Pertunjukan Wayang Kulit pelukis Affandi muncul pertanyaan seperti siapa kiranya dua tokoh wayang  dalam karya ini? Apakah tokoh-tokoh wayang ini mewakili figur seorang yang penting? Apa yang hendak Affandi sampaikan melalui karyanya?

Pertunjukan Wayang Kulit

Setelah meneliti  dan membanding-bandingkan dari artikel-artikel tentang wayang dapat disimpulkan tokoh wayang di atas yang sebelah kiri adalah Yudistira / Puntadewa. Sedang tokoh wayang di sebelah kanan  adalah Bima. Mereka berdua adalah anggota keluarga Pandawa Lima.

Pertunjukan Wayang Kulit
Gambar anggota keluarga Pandawa Lima dari kiri ke kanan: Bima, Arjuna, Yudistira, Nakula dan Sadewa

Untuk membedakannya dapat dijelaskan dari detil-detil dibawah ini:
1. Yudistira/Puntadewa memiliki rambut yang membulat (gelung keling putra)

Pertunjukan Wayang Kulit

  1. Pada umumnya para raja atau satria putra raja mengenakan wayang bokongan bertepi sembuliyan dengan keris manggaran beruntai bunga serta uncal.

Pertunjukan Wayang KulitPertunjukan Wayang KulitPertunjukan Wayang Kulit

 

 

 

 

 

3.  Bima/Werkudara memiliki kepala bulat dan hidung yang besar, biasanya memiliki jarak kaki yang lebar (mbegagah).

Pertunjukan Wayang Kulit Pertunjukan Wayang Kulit

 

 

 

 

 

Yudistira
Yudistira

Yudistira alias Puntadewa adalah putra Prabu Pandu yang tertua dari istrinya Dewi Kuntinalibrata. Yudistira memegang tahta di kerajaan Astina dan bergelar Prabu Kalimataya. Yudistira memiliki jimat jamus kalima sada dan ia memiliki darah berwarna putih.  Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Yama dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru (yang tidak memiliki musuh) dan Bhārata(keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah perang akbar di Kurukshetra berakhir dan mengadakan upacara Aswamedha demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar berada di bawah pengaruhnya.

 

Bima
Bima

Bima alias Bratasena alias Werkudara adalah adik kandung Yudistira. Dikenal pula dengan nama; Balawa, Birawa, Nagata, Kowara, Sena atau Wijasena. Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.

 

Bima dalam pewayangan Jawa

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh, jujur dan bijaksana serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) ataupun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seoranresi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewaruci. Ia mahir bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar), dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.

Dalam pencarian jati dirinya, Bima sering diberi tugas oleh gurunya—yang sesungguhnya dihasut oleh para Korawa untuk membunuh Bima—yang terasa mustahil untuk dikerjakan, seperti mencari kayu gung susuhing angin dan air banyu perwitasari, yang akhirnya membawa Bima bertemu dengan Dewaruci.

 

Pertunjukan Wayang Kulit

Setelah mengetahui kedua tokoh wayang ini dapat diperkirakan  Affandi menggambarkan seorang Dalang sedang memainkan lakon ketika keluarga Pandawa sedang berada di hutan Kamiaka. Mereka sedang menjalani hukuman buang selama 13 tahun akibat tipu daya kaum Kurawa. Lapar dan dahaga serta bahaya yang setiap saat mengancam merupakan derita yang amat sangat. Tetapi berkat keteguhan dan ketabahan serta tak putus-putus berdoa kepada Hyang Maha Tunggal kesemua itu dapat diatasi.

Sang dalang di pojok kiri bawah dengan kepala yang terlihat sedikit mendongak menghadap gawang kelir khusuk mendalang … cahaya dari lampu blencong di kiri atas sedikit ke tengah yang oleh Affandi digambarkan seperti api bewarna merah kekuningan menyinari sebagian  wajahnya. Tangan kiri sang dalang memegang wayang Yudistira sedang tangan kanan memegang wayang Bima.

Dengan gerakan menyabet-nyabetkan kedua tangan sang dalang memainkan kedua tokoh wayang tersebut  dimana terlihat bayangan dari Bima yang lebih luas daripada bayangan Yudistira. Hal ini memperlihatkan jarak Bima lebih jauh dari gawang kelir sedang Yudistira lebih dekat ke gawang kelir. Gawang kelir adalah kain putih dengan lis warna hitam atau merah yang dibentang pada gawang, berfungsi untuk tempat memainkan wayang. Saat tangan kanan sang dalang membawakan peran Bima … dari mulutnya keluar percakapan sebagai berikut  “Hemm, sampai kapan derita ini akan berakhir, si Duryudana ******* itu semakin besar kepala,” geram Bima. Setelah itu sang dalang berganti menggerakkan tangan kiri yang memegang wayang Yudistira sambil berkata “Baru tujuh tahun Sena. Tinggal enam tahun lagi, sabarlah dik,” Yudistira menghibur. Kembali dalang melanjutkan sebagai Bima  “Kalau saja aku diberi ijin kakang Yudis, sekarang juga aku gedor si laknat itu,” kata Bima penuh nafsu.  Saat dialog tersebut sang dalang menempatkan posisi tubuh Bima yang lebih di atas dari  Yudistira dimana posisi kepala Yudistira terlihat mendongak ke wajah Bima. Dari bahasa tubuhnya  terlihat Bima sedang menekan Yudistira untuk menyerang Kurawa seperti dalam dialog di atas. Bayangan  sabetan gerak Yudistira dan Bima memberikan efek visual ditambah dengan suara gamelan memperlihatkan pertunjukkan wayang sebagai integrasi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, serta seni perlambang (Kuning, 2011), yang dikemas dalam lakon (cerita), catur (narasi dan dialog), gendhing (lagu pengiring), serta sabet (gerak wayang) merupakan wujud perpaduan unsur seni rupa dan seni perlambang. Lalu dalang kembali memainkan Yudistira sambil berkata “Tulisan neraca Maha Agung tak dapat diubah lagi. Andaipun kita bertindak, tetapi tidak akan merubah nasib, dik. Malapetaka ini harus kita jadikan pelajaran untuk memperkuat jiwa dan pikiran agar siap menghadapi segala tantangan hidup,” ujar Yudistira. Sabar dan kesumerahan Yudhstira membuat adik-adiknya tunduk tak berani membantah. Dapat kita rasakan suasana saat pagelaran wayang kulit itu … terdengar suara gamelan mengiringi  penyanyi ….. memang wayang kulit mahakarya seni dan kebudayaan Indonesia.

Menambahkan kisah  melalui cerita di bawah kita akan lebih tahu lebih dalam mengenai ketokohan Yudistira sebagai lambang manusia sabar dan adil.

Orangnya pendiam tidak banyak bicara. Kalaupun berbicara tidak banyak direkayasa supaya menarik perhatian orang. Ia sabar, jujur dan adil serta pasrah dalam menghadapi cobaan hidup. Dialah Yudistira.

Karena jujur dan sabar harus disertai kesumerahan, maka ia mampu memenjarakan nafsu. Kesabaran tanpa kesumerahan belum dapat dikatan sabar. Untuk melukiskan sejauh mana kesabaran dan kesumerahannya, dijelaskan dalam kisah sebagai berikut:

Pada suatu hari terjadi musibah menimpa keluarga Pandawa. Arjuna, Nakula dan Sadewa ditemukan ajal setelah minum air kolam di tengah hutan itu. Rupa-rupanya kolam itu ada penunggunya. Dengan perasaan sedih Yudistira berkata: “Duh, dewata, siapa yang tega mencabut nyawa adik-adikku. Habislah harapanku untuk merebut negeri Astina. Dinda Arjuna, kaulah andalan kami, tapi kini kau telah pergi untuk selama-lamanya. Apa dayaku,” ratapnya.

Tak lama kemudian terdengar suara tanpa rupa: “Mereka mati karena minum air kolam. Peringatanku tak dihiraukan.” “Oh, siapakah tuan?” tanya Yudistira. “Aku penunggu kolam. Saudaramu tak menghiraukan peringatanku untuk tidak minum air itu,” jawabnya.

“Hamba mohon maaf atas kelancangan adik-adik hamba. Jika memang kematiannya sudah kehendak Hyang Pinasti, hamba relakan. Tetapi jika kematiannya belum waktunya, sudi kiranya tuan menolong menghidupkannya kembali,” pintanya. “Aku bersedia menghidupkan salah seorang diantara mereka, asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaanku,” kata suara itu.

“Hamba akan menurut kehendak tuan. Silahkan tuan bertanya barangkali hamba dapat menjawabnya.” “Baik, dengarkan. Pertanyaan pertama: Siapa musuh yang paling gagah suka membunuh tapi sukar dilawan?”

Menurut hamba musuh yang paling gagah adalah hawa nafsu yang bersemayam di dalam diri sendiri. Ia suka membunuh apabila diperturutkan keinginannya. Ia sukar dilawan jika iman kita lemah,” jawab Yudistira.

“Jawabanmu benar. Sekarang pertanyaan kedua: Yang bagaimana orang yang baik itu dan bagaimana orang yang buruk itu?”

“Menurut hamba orang yang baik adalah orang yang berbudi luhur mau menolong yang susah dan kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan orang yang buruk adalah orang yang tak menaruh belas kasih dan tak berperikemanusiaan.”

“Benar, sekarang apakah yang tinggi ilmu itu orang yang pandai membaca kitab atau ngaji, atau orang alim atau karena keturunan?”

“Menurut hamba orang yang berilmu tinggi bukan karena ia pintar ngaji. Sebab meskipun pintar ngaji, ilmunya tinggi tetapi kalau pikirannya takabur suka ingkar janji, dia bukan orang alim dan bukan pula orang baik,” jawabnya.

“Jawabanmu semua benar. Sekarang pilih salah seorang mana yang harus aku hidupkan kembali,” kata suara itu. Yudistira tampak bingung siapa yang harus ia pilih. Menurut kata hati Arjunalah pilihannya. Selain satu ibu dia merupakan andalan jika ada kerusuhan. Tapi pilihan itu segera hilang dari ingatannya, manakala pertimbangan rasa tertuju kepada si kembar yang sudah tidak beribu. Jika memilih Arjuna selain akan sedih arwahnya juga sangat tak adil. Maka akhirnya pilihan jatuh kepada Nakula yang segera ia sampaikan kepada si penunggu kolam. “Hamba memilih Nakula, tuan.” “Mengapa engkau memilih Nakula. Bukankah Arjuna lebih penting untuk tenaga andalanmu, lagi pula seibu?” tanya suara itu.

“Bagi hamba bukan soal penting atau tidaknya, tetapi keadilannya. Dengan memilih Nakula, maka kedua ibu hamba akan sama-sama merasa senang. Dari ibu Kunti kehilangan Arjuna, sedangkan dari ibu Madrim kehilangan Sadewa. Bukankah pilihan itu cukup adil,” jawab Yudistira.

“Benar-benar engkau kekasih Yang Manon. Kau manusia berbudi luhur, sabar dan cinta keadilan. Tapi mengapa engkau lebih berat kepada adil dari pada kasih sayang?” tanyanya lagi.

“Sebab adil harus jauh dari sifat serakah. Jika hanya kasih atau sayang saja, maka ia akan menyalahkan yang benar membenarkan yang salah. Yang buruk seperti bagus, yang kotor seperti bersih, yang dilihat hanya bagusnya saja. Wataknya masih suka menghilangkan kebenaran mengaburkan penglihatan,” Yudistira menegaskan pendiriannya. Suara itu tak menjawab lagi, sebagai gantinya Batara Darma, dewa keadilan, telah berdiri di hadapan Yudistira seraya bersabda: “Anakku, engkau benar benar mustikaning manusia. Sebagai imbalannya ketiga saudaramu akan kuhidupkan kembali,” tukasnya, yang tak lain adalah suara yang tanpa rupa tadi.

Betapa gembirannya Yudistira dapat berkumpul kembali dengan adik-adiknya. Kemudian mereka melanjutkan pengembaraannya menyusuri hutan-hutan belantara dengan tabah dan tawakal.

Wayang Kulit Purwa

Wayang kulit purwa merupakan salah satu kesenian asli  dari Jawa / Indonesia yang mendapat apresiasi di tingkat internasional. Pada tahun 2003, PBB menetapkan wayang kulit sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Susetya, 2007:8). Sejak awal kemunculannya hingga sampai saat ini, wayang kulit tumbuh menjadi kebudayaan yang kompleks.

Istilah ‘purwa’ berarti: mula-mula atau permulaan, cerita yang bersumber dari kitab Ramayana dan Mahabarata (KBBI, 2008: 1620). Kedua kitab tersebut berasal dari India lalu diadaptasi oleh Prabu Jayabaya dalam Pustaka Raja Purwa, yang telah menjadi rujukan para dalang (Kuning, 2011:15). Dengan kata lain, wayang kulit mendapat pengaruh cukup signifikan dari India dalam segi cerita maupun tokoh serta penokohannya.

Wayang Kulit Purwa

Proses dinamika seiring modernisasi turut mempengaruhi perubahan esensi kesenian wayang kulit. Pertunjukan wayang yang awalnya sebagai tuntunan kini lebih dominan sebagai tontonan (Soetarno, 2011:11). Perubahan ini membuat pertunjukan wayang lebih menonjolkan aspek sabetan dan banyolan dibanding aspek yang lain (Murtiyoso, 2004:79). Sabetan yang dimaksud yakni ragam gerak sebagian atau seluruh tubuh tokoh wayang. Penyampaian lakon pewayangan kini bukan lagi menjadi bagian utama, melainkan telah bergeser ke penciptaan efek-efek audio visual dalam pertunjukan, dan yang paling tampak atau dominan yakni sabetan (Darmoko: 2004:84). Efek visual yang dihasilkan dari sabetan dilakukan menggunakan boneka wayang, yang merupakan wujud perpaduan unsur seni rupa dan seni perlambang. Boneka wayang dibuat dengan visualisasi tertentu serta mengandung makna tertentu. Proporsi wayang kulit digambar menggunakan rasio antara 1:3-1:4 untuk perbandingan kepala dengan badan, berbeda dengan rasio manusia normal yakni 1:7 (Haryanto, 1991:32). Anatomi visual yang tidak rasional tersebut justru merupakan kesempurnaan wayang kulit, karena dijadikan sebagai patokan dalam pembuatan wayang beber, wayang gedhog, wayang menak, wayang wahyu, wayang shadat, dan sebagainya. Unsur seni rupa dalam boneka wayang tampak pada visual wayang yang mengalami perubahan sangat signifikan. Di zaman Hindu wayang kulit digambar realistis dan belum bisa digerakkan, mengacu pada relief Candi Penataran.  Sedangkan di zaman Islam, wayang digambar stilasi dekoratif serta bisa digerakkan bagian tangannya. Puncaknya, sampai saat ini terdapat ± 350 tokoh wayang dengan wujud visual yang berbeda satu sama lain (Haryanto, 1991:26).

Wirastodipuro (Haryadi, 2013:52-53) mendefinisikan wayang kulit sebagai suatu pertunjukan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dengan media berupa boneka wayang dari kulit kerbau, dimainkan dan dipimpin oleh dalang di depan bentangan kelir yang diterangi blencong, yang mengacu pada adegan dalam suatu cerita dengan musik tradisional gamelan, jika dilihat dari belakang layar akan terlihat bayang-bayang wayang sehingga sering disebut wayang bayang-bayang.

Lebih jelasnya lagi dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa dimainkan :

  • Dalang yaitu orang yang memainkan wayang adalah bagian terpenting. Dalang berasal dari dua kata bahasa Jawa yang berarti orang yang menyebar luaskan ajaran, pendidikan, ilmu dan informasi. Selain menghibur dalang juga harus punya pengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh baik pada pertunjukan itu.
  • Pengrawit/ Wiyaga/ Wirapradangga yaitu orang yang memainkan gamelan, guna mengiringi pertunjukan wayang.
  • Sinden/ Swarawati yaitu orang yang bertugas seperti penyanyi.
  • Penyanyi yaitu orang yang menyanyi lagu-lagu modern. Ini termasuk tambahan atau bintang tamu tidak fungsi pokok.
  • Pelawak yaitu orang yang melucu dalam pertunjukan wayang, pelawak juga termasuk tambahan dalam pertunjukan wayang.

Pertunjukan Wayang Kulit

Dan  Peralatan Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa sbb:

  1. Wayang yaitu boneka yang dimainkan dalang.
  2. Kotak yaitu tempat menaruh wayang yang berbentuk kotak dan terbuat dari kayu, juga digunakan oleh dalang untuk dodogan yang berfungsi memberi aba-aba pada pengiring dan menggambarkan suasana adegan.
  3. Keprak yaitu lempengan besi atau prunggu yang diletakan di kotak wayang dan dibunyikan oleh dalang berfungsi sebagai pengisi suasana dan pemberi aba-aba.
  4. Cempala yaitu alat untuk membunyikan keprak. Untuk cempala yang dijepit dengan jempol kaki berbahan besi, sedang yang dipegang tangan berbahan kayu.
  5. Gawang kelir yaitu kain putih dengan lis warna hitam atau merah yang dibentang pada gawang, berfungsi untuk tempat memainkan wayang.
  6. Debog yaitu batang pisang yang ditata dibagian gawang kelir berfungsi untuk menancapkan wayang.
  7. Blencong yaitu lampu untuk menerangi gawang kelir. Dahulu lampu terbuat dari tembaga berbahan bakar sumbu dan minyak kelapa.
  8. Simpingan yaitu wayang-wayang yang ditata rapi dikanan kiri gawang kelir.
  9. Gamelan yaitu alat musik jawa yang berlaras pelog dan slendro berfungsi untuk mengiringi pertunjukan wayang.
  10. Panggung yaitu tempat yang agak tinggi terbuat dari papan untuk menaruh peralatan wayang dan gamelan. Panggung bukan kebutuhan yang pokok karena pada hakekatnya pertunjukan bisa dilakukan dimana saja asalkan tempatnya cukup dan nyaman contoh di hotel, studio, pendapa dan sebagainya.
  11. Sound sistem yaitu peralatan elektronik untuk mengeraskan suara dalang dan gamelan. Sound sistem bukan kebutuhan pokok karena kalau tanpa soundsistempun bisa berjalan cuma dengan volume yang kecil.

Referensi artikel

Diambil dari buku “Affandi dalam kenangan” tulisan Irsan Suryadji hal 1 -2:

Affandi adalah satu dari sejumlah kecil seniman Indonesia yang menjadi duta budaya di luar negeri. Ia mewakili negerinya – Indonesia – dalam berbagai forum seni internasional. Ia banyak melanglang buana. Tetapi di sisi lain Affandi juga punya kecintaan yang besar akan budaya-budaya ethnis di Nusantara. Ia adalah satu dari sedikit seniman Indonesia yang mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara untuk ditanggapi jadi karya. Karya-karyanya punya karakter yang khas, hasil pencariannya sendiri.

Affandi telah menyinari dunia seni Indonesia dengan kreatifitas dan inovasi. Ia adalah milik negara dan masyarakat Indonesia. Karya-karya warisan kreatifitas dan komitmennya bisa dibaca dan dimaknai secara terus-menerus dari waktu ke waktu, dan oleh siapa saja yang peduli.

Diambil dari buku “Affandi dalam kenangan” tulisan Irsan Suryadji hal 7 – 8:

Affandi dilahirkan pada tahun 1907, di Ciledud, Jawa Barat. Ayahnya bekerja di Pabrik Gula di kota kecil itu, yaitu pabrik yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda. Menurut tradisi, keluarganya adalah orang Sunda yang punya garis keturunan Tionghoa, dan merupakan kerabat dari keluarga Kerajaan Cirebon. Semasa remajanya paman Affandi sering mengajaknya menonton wayang golek. Pada masa itu pertunjukkan wayang golek adalah hiburan populer masyarakat satu-satunya. Dengan cara inilah Affandi diperkenalkan dengan dan terdidik kuat dalam budaya kampung halamannya. Ternyata Affandi punya memori visual yang kuat. Tambahan lagi ia punya ketertarikan yang besar untuk beraktualisasi diri melalui media visual. Ketika masih kanak-kanak Affandi sudah bisa menggambarkan hampir semua tokoh utama wayang golek. Menurut Kartika, anak satu-satunya, garis-garis lengkung dan yang berputar-putar pada karya-karya lukis Affandi merupakan kenangannya akan berbagai karakter dan karakteristik dari wayang golek.

Dari buku Affandi terbitan Yayasan Bina Lestari Budaya hal 34:

Pada tahun 1951, keluarga Affandi ‘bedol jangkar’ melanjutkan petualangan dan pengembaraan mereka di Eropa. Kota pertama yang mereka tuju adalah London, dimana calon menantu mereka Saptohudoyo, belajar dan melukis. Di ibukota Inggris itulah Kartika kemudian dinikahkan dengan Saptohudoyo.

Dari buku Affandi karangan yayasan Bina Lestari hal 43 :

Lukisan – lukisan ekspresionistik Affandi selama dalam pengembaraannya yang pertama di luar negeri, yakni antara 1949 – 1954 di India dan kemudian di Eropa, mematang dan beberapa bahkan mencapai puncak prestasinya yang terbaik. Misalnya, Market Place in India, Bombay by Night,Menggendong Cucu Pertama (My First Grandchild), Gadis Eropa dan Café Paris. Saya terutama sangat terkesan oleh Menggendong Cucu Pertama, yang tidak saja mewakili satu lukisan ekspresionistik yang bagus, melainkan juga dengan unsur-unsur simbolik yang menarik.     .

Dari Kompas tulisan Aryo Wisanggeni dan Thomas Pudjo Widijanto

Kartika terlahir di Jakarta pada 27 November 1934, setahun setelah pernikahan Affandi dan Maryati. Maryati dan Kartika selalu turut ke mana pun Affandi pergi. Sekolah Kartika selalu berantakan, berpindah-pindah dari Bandung, Bali, Jakarta, kemudian Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia putus sekolah karena Affandi tak sanggup membiayai sekolah.

“Saya sempat bertanya bagaimana saya akan bersekolah kembali? Kata Papi, ‘Kamu akan belajar dari pengalaman, tidak usah sekolah lagi’.”

Kartika pun berkeliling dunia, dan terus melukis di bawah bimbingan Affandi. Tahun 1951 ia mengikuti Affandi berkeliling India. Pada 1952,  ketika Affandi berpameran keliling Eropa, Kartika belajar membuat patung di Polytechnic School of Art, London, Inggris.

Pada tahun itu pula Kartika pulang ke Indonesia, menikah dengan RM Saptohoedojo.

Dari slideshare Adhe Nurtsani.
Affandi menyukai garis-garis lengkung karena ini datang dari perasaan yang ia dapatkan dari Wayang Kulit. Dari kecil ia selalu suka pertunjukan wayang kulit.
Melalui kecintaan akan wayang inilah Affandi mulai melukis.

Dari tulisan  Satrio Pringgodani di satriopringgodani.blogspot.com Bima – Yudhistira lambang Kesentosaan dan Kejujuran.

Dari laman gesuri.id

Bima, nama samaran Bung Karno

Sejak masih belia, sekitar usia 15 tahun, Bung Karno lebih banyak menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan membaca dan mengejar ilmu pengetahuan. Hobinya adalah belajar, membaca dan membedah pemikiran politikus kelas dunia. Karena itu sejak remaja pula, Bung Karno sudah khatam perjuangan politik pembebasan Amerika beserta perjuangan para pendiri bangsa Amerika seperti Thomas Jefferson, George Washington, Benjamin Franklin, John Adams dan masih banyak lagi lainnya.

Tak hanya itu saja bacaan Bung Karno. Sejarah perjuangan revolusi Perancis, revolusi industri, perjuangan buruh, Declaration of Independence, perang saudara di AS, sampai revolusi politik di Rusia pun dilahapnya sampai tuntas. Apalagi berbagai pemikiran dari tokoh intelektual dunia seperti Karl Marx, Friederich Engels, Lenin, Rousesseau, Voltaire, Gladstone, Beatrice Webb, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Bauer, Alfreed Adler dan masih banyak lagi.

Semua bacaan itu dilahapnya dari kamar asrama Soekarno, di rumah HOS Cokroaminoto. Namun jangan dibayangkan kamarnya akan senyaman seperti zaman now ya, justru kondisinya jauh berbeda. Kamarnya di rumah Cokro tidak lebih baik dari kandang ayam! Tidak ada pintu, tidak ada jendela, tidak ada kasur, tidak ada bantal dan tidak ada listrik. Benar-benar gelap gulita. Satu-satunya penerangan adalah dari lilin pijar. DI dalam kamar tersebut hanya ada meja, kursi reyot, tikar untuk tidur serta sarang-sarang serangga seperti nyamuk, kecoa, kelabang dan laba-laba. Namun, darisitulah gemblengan kawah candradimuka Bung Karno dimulai. Bung Karno menjelma menjadi sosok nasionalisme yang kaya dengan gagasan pemberontakan melwan kolonialisme.

Di masa remaja ini pula, tumbuh jiwa politik Bung Karno bersama dengan teman-teman diskusinya seasrama. Berbekal pengetahuan yang cukup, Bung Karno lantas membentuk organisai pemuda yang pertama yaitu Tri Koro Darmo dengan tiga tujuan yaitu kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial. Tidak lama kemudian lahir perkumpulan baru dengan aktvitas yang lebih konkrit yaitu Jong Java. Dari perkumpulan inilah, Bung Karno dkk memulai pendekatan politiknya dengan pergi ke kampung-kampung untuk melakukan aktivitas kerja sosial, mendirikan sekolah, membantu korban bencana, dan lain-lain. Kemudian saat umur 19 tahun, Bung Karno (saat itu masih SMA) sudah produktif menulis gila-gilaan sampai 500 artikel di harian Oetoesan Hindia dengan menggunakan nama samaran Bima untuk mengobarkan semangat pemberontakan pada masyarakat luas.

Oetoesan Hindia tak lain adalah milik Cokroaminoto sendiri. Majalah itu diterbitkan Cokroaminoto sebagai alat propoganda partai Serikat Islam. Bung Karno mengggunakan nama Bima karena diambil dari tokoh pewayangan epos mahabrata. Bima adalah putra kedua pemegang tahta Astina, Pandu Dewanata. Dalam dunia wayang, Bima atau Werkudara adalah sosok kesatria pemberani, prajurit besar sekaligus seorang pahlawan.

Bima digambarkan sebagai pejuang yang lurus dan jujur.

Bisa dibilang tulisan-tulisan Bima bikin gempar kalangan rakyat pro kemerdekaan dan selalu menjadi perbincangan di seluruh pelosok negeri, terutama di Pulau Jawa, lebih spesifik Jawa Timur. Ini disebabkan karena tulisan Bima mengangkat realitas kehidupan yang terjajah di satu sisi dan kerakusan pemerintah Hindia Belanda di sisi lain dalam menguras sumber daya alam tanpa sisa. Bahkan kedua orang tuanya, Raden Sukeni dan Idayu juga kerap memperbincangkan tulisan Bima tersebut tanpa mereka tahu bahwa Bima itu adalah Bung Karno, anak mereka sendiri.

Bung Karno juga terpaksa menggunakan nama Bima agar dia bisa menyampaikan gagasan gagasan revolusinya dengan nyaman tanpa harus tertangkap penjajah Belanda. Sebab, bila tertangkap langsung masuk penjara dan bisa saja dibunuh karena menebarkan benih-benih kebencian terhadap pemerintahan kolonial.

Tentu kalau sudah tertangkap, Bung Karno tidak bisa lagi menyebarkan gagasan-gagasan tentang nasionalisme ke masyarakat saat itu.

Kesimpulan

Periode 1940 akhir ke1950 awal adalah periode Affandi bergeser ke teknik potlotan. Dalam karya thn 1952 – 1953 ini terlihat jelas teknik potlotan Affandi yang mengangkat namanya. Cat langsung digores di atas kanvas dari tubenya.

Affandi awalnya pelukis bergaya realis. Setelah  pindah ke gaya ekspresionis jejak realis tetap kuat. Terlihat dalam versi hitam putih di bawah cahaya dari lampu sinar blencong makin redup ke sebelah kanan. Busana dan aksesoris Yudistira dan Bima dilukis lengkap semua menandakan Affandi memperhatikan detil dalam melukis.

Wayang Kulit

Wayang Kulit

Bima Soekarno Affandi
Soekarno dan Affandi

Tokoh Bima dalam karya ini kemungkinan adalah penggambaran Soekarno presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah Pejuang Besar melawan kolonialisme Belanda.

Melalui karya yang menggambarkan ‘Yudistira dan Bima’ Affandi mengingatkan kita kembali arti Kesentosaan dan Kejujuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *