Budiman Darmansjah

Just My Personal Blog site

Pembingkaian Ulang (Reframing) Gambuh, pameran tunggal iPan Lasuang

Pembingkaian Ulang (Reframing) Gambuh

Seni Lukis Kontemporer Ipan Lasuang

oleh

Dr. Wayan Kun Adnyana

 

Perupa Ipan Lasuang, yang juga mahasiswa seni murni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan riset lebih dari setahun di Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali, tentang dramatari Gambuh.

Wayan Bawa berkaus putih melatih tari Gambuh

Riset dilakukan secara mendalam, dengan melibatkan diri langsung di tengah aktivitas dan suasana latihan para penari.

Wayan Bawa melatih pemuda tari Gambuh

Ia secara sengaja memilih tinggal bersama keluarga penari Gambuh, bernama I Wayan Bawa. Keluarga Bawa seluruhnya penari, dari istri dan anak-anaknya menekuni seni tari, termasuk dramatari Gambuh.

Wayan Bawa di sanggar tari Gambuh
Wayan Bawa melatih pemuda tari Gambuh

Ipan menyaksikan kehidupan keluarga penari ini di setiap latihan, menyiapkan pentas, hingga puncaknya berupa gelar pertunjukan pada sebuah perayaan ritus, dan tradisi adat di pura.

Panji berhasil mengalahkan Prabu dengan panah sakti

Ipan secara seksama merekam karakteristik tokoh-tokoh dalam lakon Panji, lakon yang menjadi sumber narasi dramatari Gambuh. Secara umum unsur utama narasi Panji, yaitu: perpisahan dan kerinduan antara Panji dan Candrakirana (raden Galuh), perjalanan mencari Candrakirana, peperangan, keterlibatan Panji dalam hubungan asmara dengan perempuan lain, Panji sebagai pemusik atau penyair, Panji sebagai pertapa, Panji dan Candrakirana bersatu kembali (Kieven, 2014: 33). Setiap tokoh dalam lakon Panji didentifikasi, tentu berbasis kemasan lakon yang diperankan oleh seorang penari. Sosok penari dalam hal ini adalah keluarga Wayan Bawa.

Gambuh merupakan dramatari klasik milik Bali, yang dikonstruksi sebagai penanda masa keagungan pemerintahan raja Baturenggong, abad ke-15 di Gelgel, Klungkung. Pada perkembangannya Gambuh membelah diri menjadi pertunjukan wali (sakral) dan bebali (semi-sakral).

Konsep teater dengan dramaturgi yang ketat, memerankan karakter khusus menunjuk pada narasi Panji, dengan dialog berbahasa Jawa Kuno. Secara ringkas, kisah Panji dalam Gambuh, merupakan drama penantian cinta yang panjang penuh rindu dan tangis, menjadi ritme lakon yang penting.

Prabu berhasil dipanah oleh Pangeran Panji

Raden Galuh digambarkan seperti berontak dan melakukan perlawanan atas takdirnya yang selalu mesti ditinggal. Ia seperti menghentikan takdir, memalingkan pangeran Panji dari riwayat kehidupan penuh peperangan, untuk kembali ke peraduan cinta kehidupan yang sesungguhnya, yakni keluarga (Adnyana, 2019).

Putri Galuh simbol cinta

Tema pertunangan atau pernikahan antara putra mahkota Koripan (Janggala/Keling) raden Panji dengan putri Daha (Kadiri/Mamenang) raden Galuh, yang penuh dengan riwayat tragis tersebut dimaknai sebagai “api dharma ning kahuripan” (Suarka, Wicaksana, dan Tim, 2018: 111). Ahli Jawa Kuno, Suarka dan tim, menunjuk pada pemaknaan Panji sebagai putera mahkota Kahuripan (kehidupan), sementara Daha sebagai api dharma, atau kewajiban hidup yang mesti dilakukan setiap manusia. Lakon Panji pada Gambuh merupakan narasi kehidupan, yang setiap pribadi di dalamnya hadir sebagai sosok pahlawan; “roman cinta”.

tokoh antagonis Prabu yang mau merebut putri Galuh dari Panji

Ipan, yang kelahiran Padang, tentu bertumbuh dari tradisi naratif lokal tanah Minang. Pencerapan tradisi narasi seperti itu, membangun sensitivitas Ipan dalam menghayati pengalaman menonton dan menjadi bagian tradisi latihan olah gerak tari di Desa Batuan tersebut. Terlebih Ipan memadukan tata (lantai dan panggung) pertunjukan Gambuh dengan komposisi lukisan “The Dance” karya maestro modern Eropa Henri Matisse.

latihan tari Gambuh dalam formasi Matisse
The Dance

Simbol Imajinasi ke Metafora Baru

Lihat karya Ipan yang mengemas tokoh dalam narasi Gambuh lewat seting teater modern; memasukkan properti lilin, sinar tamaran bulan, dan juga pepohonan beranting kering ke dalam lukisan bersama tokoh-tokoh Panji. Subjek karya Ipan, yang selama ini mewujud metafora boneka kertas bertransformasi menjadi metafora baru; boneka kertas dalam perannya sebagai tokoh-tokoh yang dipetik dari dramatari Gambuh.

Dramatari Gambuh dibaca ulang-alik antara konteks pertunjukan klasik dan refleksi realitas makro sosial dan lingkungan hidup. Ipan dengan metafora visual berupa boneka kertas, dibingkai ulang dalam peran-peran satria Panji, juga peran lain pada narasi Gambuh.

Pada titik ini, Ipan merujuk pada pendekatan estetika: pembingkaian ulang (reframing), menunjuk sebuah pendekatan yang memadukan metafora (lama); boneka kertas ala Ipan, untuk kemudian memproyeksi menjadi metafora baru karena dihadirkan pada seting yang beragam di luar konteks aslinya, ke narasi Panji pada Gambuh. Konsep pembingkaian ulang (reframing) menunjuk pada bagian dari tiga konsep estetika seni lukis kontemporer berbasis artefak/karya budaya tradisi: pembingkaian ulang (reframing), perombakan (recasting) dan pemindahlokasian (globalizing). Tiga pendekatan estetika tersebut sekaligus sebagai metodologi/ kredo penerjemahan/transformasi metafora (lama) berupa karya tradisi untuk kemudian dijadikan metafora baru; subjek seni lukis kontemporer (Adnyana, 2019b: 8).

Menyimak karya Ipan, bahwa transformasi yang dilakukan atas sosok pemeran utama dan sampiran pada dramatari Gambuh telah melahirkan sosok-sosok boneka kertas yang berkarakter. Sesungguhnya pula Ipan telah jauh mengembangkan subjek boneka kertasnya yang khas itu; dari sebatas simbol imajinasi ke arah metafora baru dalam menghubung-sambungkan Gambuh dengan realitas sosial hari ini. Estetika pembingkaian ulang (reframing) yang tanpa sadar telah dicapai Ipan, sesungguhnya muncul dari kesadaran untuk membangun pembacaan ulang-alik Gambuh sebagai entitas seni pertunjukan dan juga potret kehidupan sosial makro. Karena narasi tidak saja dikenali sebagai tutur lisan, tetapi juga merupakan representasi olah-laku dan wicara para penari. Kesemua itu diakrabi Ipan dengan intensif selama lebih dari setahun.

pasukan khusus Prabu yang berformasi 4 orang

 

Kedalaman riset yang dilakukan tersebut, tentu tidak saja mengayakan sensitivitas dalam menyerap hal artistik dan indah semata, tetapi juga telah membangun kesadaran bersifat psikis dan sosiologis. Dramatari Gambuh tidak saja dipahami sebagai entitas keindahan karya seni panggung, tetapi juga proyeksi kompleksitas kehidupan manusia. Kedua hal tersebut dapat ditangkap Ipan secara cermat, dan juga tetap dapat mengembangkan karakter karya yang selama ini telah melekat sebagai subjek lukisan (metafora) ala Ipan. Kelebihan Ipan, pencerapan dalam riset bukan memupus bahkan menghilangkan karakter artistik pribadi, tetapi justru mengembangkannya dalam rumusan yang semakin meluas dan universal.

 

Dr. Wayan Kun Adnyana, penulis seni rupa, pengajar pada program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, dan sejak 1 Agustus 2019 ditetapkan sebagai Profesor bidang Sejarah Seni Rupa.

 

Daftar Pustaka

Adnyana, I Wayan ‘Kun’. (2019), “The Scene of a Woman Grabbing a Horse’s Tail in Yeh Pulu Relief, and Its Connection to Panji narrative: The  Basis of Contemporary Painting Creation”, diajukan untuk Jurnal Wacana (Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya), Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jakarta.

_____________________.(2019b), Tiga Pendekatan Estetika: Proyeksi Interpretasi Ikonografis Relief Yeh Pulu (sebuah Orasi Ilmiah), disampaikan pada Wisuda Sarjana XXIII, Institut Seni Indonesia Denpasar.

Kieven, Lydia.,2014, Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit (Pandangan Baru terhadap Fungsi Relegius Candi-Candi Periode Jawa Timur Abad ke-14 dan ke-15), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Suarka, I Nyoman, I Dewa Ketut Wicaksana, dan Tim., 2018, Kajian Sastra Panji dalam Seni Pertunjukan Bali “Gambuh”, Denpasar: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *