Budiman Darmansjah

Just My Personal Blog site

Hunting Season, karya Uji Handoko / Hahan

A

Sekitar tahun 2000 awal balai lelang Christies dan Sothebys mengukuhkan South East Asia Contemporary Art yang didominasi para seniman muda sebagai ceruk pasar baru tersendiri.
Kedua balai lelang ini optimis pasar kontemporer menjanjikan setelah mempelajari dari segala elemen seni rupa yang terdiri dari para kolektor, pemilik galeri, seniman, broker, curator seni, museum, kritikus, penikmat seni, pekerja seni dsbnya.
Balai lelang bisa dikatakan Pembentuk harga. Sejarah panjang kesuksesan ratusan tahun adalah bukti kepercayaan pasar terhadap peran balai lelang.
Sebagai instutisi komersil balai lelang mendapatkan penghasilan dari komisi jual beli. Dalam jangka pendek balai lelang mencarikan keuntungan untuk penjual tapi dalam jangka panjang balai lelang tsb mencarikan keuntungan untuk pembeli tadi. Satu karya yang sama bisa diperjual belikan berkali kali. Statistik banyak memperlihatkan pembelian atau penjualan yang dieksekusi dengan baik memberikan imbal hasil yang besar yang mungkin lebih besar dari investasi bidang lain.

Saat tahun 2000 awal itu sampai sebelum krisis global 2008 harga karya seni kontemporer dunia meroket tajam. Ekonomi global dikatakan sedang sangat baik. Harga karya seni kontemporer terus naik setiap kali dilelang. Saat itu mucul banyak pertanyaan apakah kenaikan harga tersebut sudah mencerminkan fundamental? Apakah harga masih akan terus naik?
Saat itu juga banyak muncul pemain pemain baru yang tergiur keuntungan sesaat dalam jangka pendek. Juga bermunculan galeri-galeri baru, balai lelang baru, kurator, kritikus, seniman, broker dsbnya.
Tapi ada retak yang tidak terlihat. Bermula dari masalah kredit pemilikan rumah di Amerika lalu menyebar ke seluruh dunia dan akhirnya terjadi krisis global. Kontemporer global termasuk Indonesia juga ikut rontok ditandai dengan terjadinya koreksi harga besar saat dilelang.

Dalam karya tahun 2011 ini Uji Hahan mengkomunikasikan perilaku sebagian kolektor seni rupa yang hanya mengumpulkan karya seniman yang sudah masuk balai lelang demi keamanan finansial . Yang diburu adalah seniman muda yang harganya naik terus di lelang. Selain harga di pasar lebih terbuka kemungkinan dilelang kembali besar. Karya ini jeritan kegelisahan Uji Hahan sebagai seniman muda yang saat itu baru berkiprah. Saat booming era 2000 awal tadi tidak semua seniman terpilih oleh balai lelang. Apakah yang tidak terpilih balai lelang itu seniman yang kurang baik? Apakah karya yang bisa mengikuti trend pasar adalah karya seni yang baik? Apakah karya yang bisa menyesuaikan praktek kuratorial komersil yang pantas dikoleksi?
Bagaimana dengan seniman yang tidak terpilih oleh balai lelang tadi? Menyerah lalu ganti profesi? Atau terus bertahan dengan harapan optimis satu hari akan terpilih? Sebagian seniman memilih terus menjalankan hidup sebagai seniman dan berkarya membangun identitas personal.
Dari sebagian itu beberapa seniman berhasil mendapatkan pengakuan secara fundamental di nasional dan international. Perjalanan Uji Hahan menginspirasi kita pentingnya membangun fundamental selain nilai komersil. Seniman dituntut bereksplorasi terus untuk mengekspos secara kritis kehidupan masyarakat kontemporer tanpa harus terdikte pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *